Kamis, 22 Oktober 2009

PERBANYAKAN BIBIT KAKAO SECARA KULTUR JARINGAN

Kakao (Theobroma cacao L) merupakan salah satu komoditas perkebunan dan perdagangan serta sumber penerimaan devisa negara yang cukup penting. Berbagai permasalahan yang dihadapi dalam budidaya kakao antara lain adalah hama penggerek buah kakao, layu pentil,
kualitas biji yang rendah dan regenerasi embrio melalui kultur jaringan. Usaha perbanyakan kakao melalui kultur jaringan untuk memperoleh tanaman klonal telah dilakukan namun masih menemui banyak kendala. Berbagai macam eksplan seperti kelopak bunga, staminode dan daun telah diuji namun belum berhasil dengan baik. Kendala yang sering dijumpai antara lain inisiasi kalus dan embryogenesis. Terbentuknya senyawa fenolik teroksidasi dan lendir yang sangat cepat, menghambat proses diferensiasi. Demikian juga reprodusibilitas prosedur dan kondisi regenerasi tergolong sangat rendah. TERBATASNYA bibit bermutu menyebabkan rendahnya produktivitas tanaman kakao saat ini, yakni hanya 625 kilogram (kg) per hektar per tahun. Hal itu setara 32 persen dari potensi seharusnya sebesar 2.000 kg per hektar per tahun. Untuk itu, diperlukan terobosan teknologi pembibitan kakao berkualitas untuk memenuhi kebutuhan yang kian besar dengan cara mengembangkan kultur jaringan atasi kebutuhan bibit kakao. Kepala Puslit Kopi dan Kakao, Teguh Wahyu, menambahkan pengembangan laboratorium teknologi kultur jaringan menggunakan dana hibah Deptan tahun 2007 sebesar Rp9 miliar dan dilanjutkan dana hibah tahun 2008 sebesar Rp4 miliar. Untuk teknologinya, Deptan mendapatkan bantuan alih teknologi dari Pusat Litbang Nestle Perancis yang difasilitasi PT Nestle Indonesia. Kepala Biro Riset Lembaga Riset Perkebunan Indonesia, Gede Wibawa, mengatakan teknologi ini tak hanya mampu menyediakan bibit dalam jumlah besar. Namun juga menghasilkan bibit berkualitas tinggi berukuran seragam. Perbanyakan tanaman kakao umumnya dilakukan secara generatif menggunakan benih dan vegetatif menggunakan setek, okulasi, dan sambung pucuk. Namun, hasilnya kualitas bibit umumnya rendah, ukuran tidak seragam, dan produktivitas rendah. Dengan teknologi kultur jaringan, masalah pengadaan bibit berkualitas tinggi dan seragam secara cepat bisa diatasi. Tahun 2009 kapasitas produkti akan mencapai empat juta bibit kakao.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar